Pembengkakan Pada Wajah dan Ekstremitas
Pembengkakan Pada
Wajah dan Ekstremitas
BAB I
PENDAHULUAN
1.1. Latar Belakang
Penyebab langsung
berkaitan dengan kematian ibu adalah komplikasi pada kehamilan, persalinan, dan
nifas yang tidak tertangani dengan baik dan tepat waktu. Dari hasil survai
(SKRT 2001) diketahui bahwa komplikasi penyebab kematian ibu terbanyak
adalah pendarahan, hipertensi dalam kehamilan ( eklamsi), infeksi, partus lama,
dan komplikasi keguguran. Angka kematian bayi baru lahir terutama disebabkan
oleh antara lain infeksi dan berat bayi lahir rendah. Kondisi tersebut
berkaitan erat dengan kondisi kehamilan, pertolongan persalinan yang aman, dan
perawatan bayi baru lahir. Bengkak tangan/ wajah pusing, dan dapat diikuti
kejang.
Sedikit bengkak pada kaki
atau tungkai bawah pada umur kehamilan 6 bulan ke atas mungkin masih normal,.
Tetapi, sedikit bengkak pada tangan atau wajah, apa lagi jika disertai tekanan
darah tinggi dan sakit kepala ( pusing), sangat berbahaya. Bila keadaan ini
dibiarkan maka ibu dapat mengalami kejang-kejang. Keadaan ini disebut keracunan
kehamilan atau eklamsi.
Keadaan ini sering
menyebabkan kematian ibu serta janin. Bila ditemukan salah satu atau lebih
gejala tersebut, ibu harus segera meminta pertolongan kepada bidan terdekat
untuk dibawa ke rumah sakit.
1.2 Tujuan
Tujuannya untuk
memperoleh kebenaran ilmu pengetahuan atau pemecahan suatu masalah yang pada
dasarnya menggunakan metode ilmiah, dan untuk mengetahui pembengkakan pada wajah
dan ekstremitas yang biasanya terjadi pada ibu hamil.
BAB II
TEORI
2.1 Pengertian
Edema ialah penimbunan cairan secara umum dan
berlebihan dalam jaringan dan biasanya dapat diketahui dari kenaikan berat
badan serta pembengkakan kaki, jari tangan dan muka. Edema paling umum
terjadi pada feet (tungkai-tungkai) dan legs (kaki-kaki), dimana ia dirujuk
sebagai peripheral edema. Pembengkakan adalah akibat dari akumulasi cairan yang
berlebihan dibawah kulit dalam ruang-ruang didalam jaringan-jaringan. Organ
tubuh mempunyai ruang-ruang interstitial dimana cairan dapat berakumulasi.
Akumulasi cairan dalam ruang-ruang udara interstitial (alveoli) dalam paru-paru
terjadi pada penyakit yang disebut pulmonary edema.
Sebagai tambahan, kelebihan cairan adakalanya berkumpul dalam apa
yang disebut ruang ketiga, yang termasuk rongga-ronga dalam perut (rongga perut
atau peritoneal - disebut ascites ) atau di dada (rongga paru atau pleural - disebut pleural
effusion). Edema ialah edema biasa yang terjadi pada kehamilan normal
sehingga edema bukan tanda pre eklampsi yang dapat dipercaya kecuali jika edema
juga dimulai terjadi pada tangan dan wajah. Kadang-kadang edema tidak terlihat
jelas pada pemeriksan teapi termanifestasi sendiri dalam bentuk kenaikan berat
badan yang mendadak sebanyak 1 kg / lebih dalam seminggu atau 3 kg dalam
sebulan adalah indikasi pre eklampsi.
A. Pitting Edema
Pitting edema dapat ditunjukan dengan
menggunakan tekanan pada area yang membengkak dengan menekan kulit dengan jari
tangan. Jika tekanan menyebabkan lekukan ang bertahan untuk beberapa waktu
setelah pelepasan dari tekanan, edema dirujuk sebagai pitting edema. Segala
bentuk dari tekanan, seperti dari karet kaos kaki, dapat menginduksi pitting
(lekukan) dengan tipe edema ini.
B. Non-Pitting Edema
Pada non-pitting edema, yang biasanya
mempengaruhi tungkai-tungkai (legs) atau lengan-lengan, tekanan yang digunakan
pada kulit tidak berakibat pada lekukan yang gigih. Non-pitting edema dapat
terjadi pada penyakit-penyakit tertentu dari sistim lymphatic seperti
lymphedema, dimana gangguan dari sirkulasi lymphatic yang mungkin terjadi
setelah operasi mastectomy, lymph node, atau congenitally. Penyebab lain dari
non-pitting edema dari legs disebut pretibial myxedema, yang adalah
pembengkakan diatas tulang kering pada beberapa pasien-pasien dengan hyperthyroidism. Non-pitting edema dari legs adalah sulit untuk dirawat.
Obat-obat diuretic umumnya tidak efektif, meskipun menaikan legs secara
periodik sepanjang hari dan alat-alat penekan mungkin mengurangi pembengkakan.
C. Idiopathic Edema
Idiopathic edema adalah pitting edema dari
sebab yang tidak diketahui yang terjadi terutama pada wanita-wanita
pre-menopause yang tidak mempunyai bukti dari penyakit jantung, hati, atau
ginjal. Pada kondisi ini, penahanan cairan pertama mungkin terlihat terutama pre-menstrually
(tepat sebelum menstruasi), yang adalah mengapa ia adakalanya disebut
"cyclical" edema. Pasien-pasien dengan idiopathic edema seringkali
mengambil diuretics untuk mengurangi edema dalam rangka untuk mengurangi
ketidaknyamanan dari kembung dan pembengkakan. Secara bertentangan, bagaimanapun, edema
pada kondisi ini dapat menjadi lebih persoalan setelah penggunaan dari
diuretics. Pasien-pasien dapat mengembangkan penahanan cairan sebagai fenomena
yang memantul kembali setiap waktu mereka menghentikan diuretics.
Pasien-pasien denga idiopathic edema nampak
mempunyai kebocoran dalam kapiler-kapiler (pembuluh-pembuluh darah peripheral
kecil yang menghubungkan arteri-arteri dengan vena-vena) sehingga cairan lewat
dari pembuluh-pembuluh darah kedalam ruang interstitial yang mengelilingi.
Jadi, pasien dengan idiopathic edema mempunyai volume darah yang berkurang,
yang menjurus pada reaksi yang khas dari penahanan garam oleh ginjal-ginjal.
a. Edema leg (kaki) pada pasien-pasien ini
dilebih-lebihkan dalam posisi berdiri, karena edema cenderung untuk
berakumulasi pada bagian-bagian tubuh yang dekat dengan tanah pada saat itu.
b. Paien-pasien ini seringkali mempunyai
edema sekitar mata-mata (periorbital edema) pada pagi hari karena cairan edema
berakumulai selama malam hari sekitar mata-mata mereka ketika mereka tidur
terbaring rata.
Pasien-pasien dengan idiopathic edema
seringkali menjadi tergantung pada diuretics, dan ketergantungan ini seirngkali
sulit untuk dipotong. Periode sepanjang tiga minggu lepas dari diuretics
mungkin diperlukan untuk memutus siklus ketergantungan. Penarikan dari
diuretics mungkin menjurus pada penahanan cairan yang menghasilkan
ketidaknyamanan dan pembengkakan utama. Lebih jauh, ada risiko-risiko yang
tertentu yang berhubungan dengan penggunaan diuretics yang berkepanjangan pada
individu-individu ini, yang dipersulit oleh kecenderungan untuk meningkatkan
dosis-dosis dari diuretics.
2.2 Penyebab Edema
A. Penyakit
sistemik
Penyakit – penyakit systemic yaitu
penyakit-penyakit yang mempengaruhi beragam sistim-sistim organ dari tubuh,
atau oleh kondisi-kondisi lokal yang melibatkan hanya anggota-anggota tubuh
yang dipengaruhi. Penyakit-penyakit systemic yang paling umum yang berhubungan
dengan edema melibatkan jantung, hati, dan ginjal-ginjal.
B. Pemasukan
garam dan penahanan garam tubuh (sodium chloride)
Garam yang berlebihan menyebabkan tubuh
menahan air. Air ini kemudian bocor kedalam ruang-ruang jaringan interstitial,
dimana ia nampak sebagai edema. Orang yang normal dapat mengkonsumsi
jumlah-jumlah garam yang kecil atau besar pada makanan tanpa keprihatinan untuk
mengembangkan penipisan atau penahanan garam. Pemasukan garam ditentukan oleh
pola-pola makanan dan pengeluaran garam dari tubuh dilaksanakn oleh
ginjal-ginjal. Ginjal-ginjal mempunyai kapasitas yang besar untuk mengontrol
jumlah garam dalam tubuh dengan merubah jumlah garam yang dieliminasi
(dikeluarkan) dalam urin. Jumlah garam yang dikeluarkan oleh ginjal-ginjal
diatur oleh faktor-faktor hormon dan fisik yang memberi sinyal apakah penahanan
atau pengeluaran dari garam oleh ginjal-ginjal adalah perlu.
Jika aliran darah ke ginjal-ginjal berkurang oleh
kondisi yang mendasarinya seperti gagal jantung, ginjal-ginjal bereaksi dengan
menahan garam. Penahanan garam ini terjadi karena ginjal-ginjal merasa bahwa
tubuh memerlukan lebih banyak cairan untuk mengkompensasi aliran darah yang
berkurang. Jika pasien mempunyai penyakit ginjal yang mengganggu fungsi
ginjal-ginjal, kemampuan untuk mengeluarkan garam dalam urin adalah terbatas.
Pada kedua kondisi-kondisi, jumlah garam dalam tubuh meningkat, yang
menyebabkan pasien untuk menahan air dan mengembangkan edema.
C. Kekurangan
vena
Vena-vena pada tungkai-tungkai (legs)
bertanggung jawab untuk mengangkut darah naik ke vena-vena dari torso, dimana
ia kemudian dibalikan ke jantung. Vena-vena dari legs mempunyai klep-klep yang
mencegah aliran balik dari darah didalam mereka. Venous insufficiency adalah
ketidakmampuan dari vena-vena yang terjadi karena pelebaran atau pembesaran
dari vena-vena dan disfungsi dari klep-klep mereka. Ini terjadi, misalnya, pada
pasien-pasien dengan varicose veins. Venous insufficiency menjurus pada backup
dari darah dan meningkatkan tekanan pada vena-vena, dengan demikian berakibat
pada edema dari legs (tungkai-tungkai) dan feet (kaki-kaki).
Edema dari legs juga dapat terjadi dengan
episode dari deep vein thrombophlebitis, yang adalah bekuan atau gumpalan darah
didalam vena yang meradang. Pada situasi ini, bekuan atau gumpalan pada deep
vein menghalangi kembalinya darah, dan dengan konsekwensi menyebabkan tekanan
balik yang meningkat pada vena-vena kaki (leg).Venous insufficiency adalah
persolan yang terlokalisir pada legs, pergelangan-pergelangan kaki (ankles),
dan feet. Satu kaki (leg) mungkin lebih dipengaruhi daripada yang lain
(asymmetrical edema). Berlawanan dengannya, penyakit-penyakit systemic yang
berhubungan dengan penahanan cairan umumnya menyebabkan jumlah yang sama dari
edema pada kedua kaki-kaki (legs), dan dapat juga menyebabkan edema dan
pembengkakan ditempat lain dalam tubuh.
Respon pada terapi dengan obat-obat diuretic
pada pasien-pasien dengan venous insufficiency cenderung tidak memuaskan. Ini
karena berkumpulnya cairan yang terus menerus pada ekstrimitas bagian bawah
membuatnya sulit diuretics untuk mengerahkan cairan edema. Pengangkatan
tungkai-tungkai (legs) secara periodok sepanjang hari dan penggunaan dari
compression stockings mungkin meredakan edema. Beberapa pasien-pasien
memerlukan perawatan secara operasi untuk menghilangkan edema yang kronis yang
disebabkan oleh venous insufficiency.
D. Kehilangan
protein yang berat dalam urin
Kehilangan protein yang berat dalam urin
(lebih 3.0 gram per hari) dengan edema yang menyertainya diistilahkan nephrotic
syndrome. Nephrotic syndrome berakibat pada pengurangan pada konsentrasi dari
albumin dalam darah (hypoalbuminemia). Karena albumin membantu mempertahankan
volume darah pada pembuluh-pembuluh darah, pengurangan cairan pada
pembuluh-pembuluh darah terjadi. Ginjal-ginjal kemudian mencatat bahwa ada
penipisan atau pengurangan volume darah dan, oleh karenanya, mencoba untuk
menahan garam. Dengan konsekwensi, cairan bergerak kedalam ruang-ruang
interstitial, dengan demikian menyebabkan pitting edema.
E. Fungsi
ginjal ( renal ) yang terganggu
Pasien-pasien yang mempunyai penyakit-penyakit
ginjal yang mengganggu fungsi renal mengembangkan edema karena kemampuan ginjal
yang terbatas untuk mengeluarkan sodium kedalam urin. Jadi, pasien-pasien
dengan gagal ginjal dari penyakit apa saja akan mengembangkan edema jika
pemasukan sodium mereka melebihi kemampuan ginjal-ginjal mereka untuk
mengeluarkan sodium. Lebih lanjut gagal ginjalnya, lebih besar persoalan dari
penahanan garam kemungkinan terjadi :
Ada beberapa hal yang memicu
parahnya edema, yaitu :
1. Cuaca
panas
2. Berdiri
terlalu lama
3. Kecapekan
4. Kebanyakan
sodium, biasanya pada garam
5. Kebanyakan
cafein
6. Kurang
potassium
2.3 Penyakit yang
Menyertai Edema
A. Penyakit
Jantung
Gagal jantung adalah akibat dari fungsi jantung yang buruk dan
dicerminkan oleh berkurangnya volume darah yang dipompa keluar oleh jantung,
yang disebut cardiac output. Gagal jantung dapat disebabkan oleh kelemahan dari
otot jantung, yang memompa darah keluar melalui arteri-arteri ke selurh tubuh,
atau oleh disfungsi dari klep-klep
jantung, yang mengatur aliran darah antara
kamar-kamar (bilik-bilik) jantung. Peningkatan yang berhubungan dalam jumlah
cairan dalam pembuluh-pembuluh darah dari paru-paru menyebabkan sesak napas
karena cairan yang berlebihan dari pembuluh-pembuluh darah paru-paru bocor
kedalam ruang-ruang udara (alveoli) dan interstitium pada paru-paru.
Akumulasi cairan dalam paru-paru ini disebut pulmonary edema. Pada
saat yang bersamaan, akumulasi cairan pada kaki-kaki (legs) menyebabkan pitting
edema. Edema ini terjadi karena penumpukan dari darah pada vena-vena dari
kaki-kaki (legs) menyebabkan kebocoran cairan dari kapialer-kapiler kaki-kaki
(pembuluh-pembuluh darah kecil) kedalam ruang-ruang interstitial. Dokter yang
memeriksa pasien yang mempunyai gagal jantung
congestif dengan penahanan cairan mencari
tanda-tanda tertentu. Ini termasuk:
a. Pitting edema dari legs (kaki-kaki) dan
feet (tungkai-tungkai)
b. Rales pada paru-paru (suara-suara
gemercik yang lembab dari cairan yang berlebihan yang dapat didengar dengan
stethoscope)
c. Gallop rhythm (suara-suara tiga jantung
sebagai gantinya dari dua yang normal yang disebabkan oleh kelemahan otot), dan
d. Vena-vena leher yang menggelembung. Vena-vena
leher yang menggelembung mencerminkan akumulasi dari darah pada vena-vena yang
mengembalikan darah ke jantung.
B. Penyakit
Hati
Pada pasien-pasien dengan penyakit hati yang kronis, fibrosis
(luka parut) dari hati seringkali terjadi. Ketika scarring (luka parut)
berlanjut, kondisinya disebut sirosis hati. Peripheral edema, yang biasanya terlihat sebagai pitting edema
dari legs dan feet, juga terjadi pada sirosis. Edema adalah konsekwensi dari
hypoalbuminemia dan ginjal-ginjal yang menahan garam dan air.
Kehadiran atau ketidakhadiran dari edema pada pasien-pasien dengan
sirosis dan ascites adalah pertimbangan yang penting pada perawatan dari
ascites. Pada pasien-pasien dengan ascites tanpa edema, diuretics harus
diberikan dengan perhatian yang ekstra. Diuresis (menginduksi peningkatan
volume kencing dengan penggunaan diuretics) yang terlalu agresif atau cepat
pada pasien-pasien ini dapat menjurus pada volume darah rendah (hypovolemia),
yang dapat menyebakan gagal ginjal dan hati. Berlawanan dengannya, ketika
pasien-pasien yang mempunyai keduanya edema dan ascites menjalani diuresis,
cairan edema pada ruang interstitial melayani sedikit banyak sebagai penyangga
terhadap perkembangan dari volume darah rendah.
C. Pre
eklamsi
Edema ialah edema biasa yang terjadi pada
kehamilan normal sehingga edema bukan tanda pre eklampsi yang dapat dipercaya
kecuali jika edema juga dimulai terjadi pada tangan dan wajah. Kadng-kadang
edema tidak terlihat jelas pada pemeriksan teapi termanifestasi sendiri dalam
bentuk kenaikan berat badan yang mendadak sebanyak 1 kg/lebih dalam seminggu
atau 3 kg dalam sebulan adalah indikasi pre eklampsi.
Preeklamsia adalah masalah umum yang timbul saat kehamilan. Preeklamsia adalah
tingginya tekanan darah dan kelebihan kadar protein dalam urin setelah
kehamilan berusia 20 mingu. Pembengkakan (edema) pada wajah dan tangan sering
menyertai preeklamsia walaupun tidak selalu merupakan gejala dari preeklamsia
karena edema ini terjadi juga pada kehamilan yang normal.
2.4 Penanganan
1. Tidak
berdiri terlalu lama
2. Rebahan
dengan kaki agak terangkat
3. Sepatu/sandal
yang enak, jangan yang berhak tinggi
4. Pake
stocking ketat tapi tidak nyekik, ada yang khusus buat bengkak
5. Jangan
pakai pakaian ketat
6. Pijit
7. Minum
air putih sebanyak-banyaknya
8. Kurangi
sodium pada garam
2.5 Penatalaksanaan
Terapi edema harus mencakup terapi penyebab yang mendasarinya yang
reversibel (jika memungkinkan). Pengurangan asupan sodium harus dilakukan untuk
meminimalisasi retensi air. tidak semua pasien edema memerlukan terapi
farmakologis ,pada beberapa pasien terapi non farmakologis sangat efektif
seperti pengurangan asupan natrium (yakni kurang dari jumlah yang diekskresikan
oleh ginjal) dan menaikkan kaki diatas level dari atrium kiri. Tetapi pada
kondisi tertentu diuretic harus diberikan bersamaan dengan terapi non
farmakologis.
Pemilihan obat dan dosis akan sangat tergantung pada penyakit yang
mendasari, berat-ringannya penyakit dan urgensi dari penyakitnya. Efek diuretic
berbeda berdasarkan tempat kerjanya pada ginjal. Klasifikasi diuretic
berdasarkan tempat kerja :
1. Diuretic
yang bekerja pada tubulus proksimalis
2. Diuretic yang bekerja pada loop of henle
3. Diuretic yang bekerja pada tubulus
kontortus distal
4. Diuretic yang bekerja pada cortical
collecting tubule
5. Prinsip terapi edema
6. Penanganan penyakit yang mendasari
7. Mengurangi asupan natrium dan air, baik
dari diet maupun intravena
8. Meningkatkan pengeluaran natrium dan air
: Diuretik, hanya sebagai terapi paliatif,bukan kuratif, Tirah baring, lokal
pressure
9. Hindari faktor yang memperburuk penyakit
dasar, diuresis yang berlebihan menyebabkan pengurangan volume
plasma,hipotensi,perfusi yang inadekuat, sehinggga diuretic harus diberikan
dengan hati-hati.
BAB III
PEMBAHASAN
4.1 Oedema
Oedema atau
sembab adalah meningkatnya volume cairan ekstraselular dan ekstravaskuler (
cairan interstitium) yang disertai dengan penimbunan cairan abnormal dalam
sela-sela jaringan dan rongga serosa ( jaringan ikat longgar dan rongga-rongga
badan). Edema dapat bersifat setempat ( lokal) dan umum ( general).
Edema yang bersifat lokal seperti terjadi
hanya di dalam rongga perut ( hydroperitoneum atau ascites), rongga dada (
hydrothorax), di bawah kulit ( edema subkutis atau hidropsanasarca),
pericardium jantung ( hydropericardium) atau di dalam paru-paru ( edema
pulmonum). Sedangkan edema yang ditandai dengan terjadinya pengumpulan cairan
edema dibanyak tempat dinamakan edena umum ( general edema).
Cairan edema diberi istilah transudat,
memiliki berat jenis dan kadar protein rendah, jernih tidak berwarna atau jernih
kekuninga dan merupakan caiaran yang encer atau mirip gelatin bila mengandung
didalamnya sejumlah fibrinogen plasma.
Penyebeb (cause) edema adalah adanya
kongesti, obstuksi limfaik, permeabilitasi kapiler yang bertambah,
hipoproteinemia, tekanan osmotikc koloid dan retensi natrium dan air.
Mekanisme
:
1. Adanya
kongesti
Pada kondisi vena yang terbendung (kongesti), terjadi
peningkatan tekanan hidrostatik intra vaskula ( tekaan yang mendorong darah
mengalir di dalam vaskula oleh kerja pompa jantung) menimbulkan pembesaran
cairan plasma kedalam ruang interstitium. Cairan plasma ini akan mengisi pada
sela-sela jaringan ikat longgar dan rongga badan (terjadi edema).
2. Obstruksi
limfatik
Apabila terjadi gangguan limfe pada suatu daerah (
obstruksi/ penyumbatan), maka cairan tubuh yang berasal dari plasma darah
dan hasil metabolisme yang masuk kedalam saluran limfe akan tertimbun (limfe
edema). Limfedema ini sering terjadi akibat mastektomi radikal untuk
mengeluarkan tumor ganas pada payudara atau akibat tumor ganas menginfiltrasi
kelenjar dan saluran limfe.selain itu, saluran dan kelenjar inguinal yang
meradang akibat infestasi filaria dapat juga menyebabkan edema pada scrotum dan
tungkai (penyakit filariasis atau kaki gajah/ elephantiasis)
3. Permeabilitas
kapiler yang bertambah
Endotel kapiler merupakan suatu membran semi permeabel
yang dapat dilalui oleh air dan elektrolit secara bebas, sedangkan protein
plasma hanya daopat melalui sedikit atau terbatas. Tekanan osmotic darah lebih
besar dari pada limfe.
Daya permeabilitis ini tergantung kepada subtansi yang
mengikat sel-sel endoteltersebut. Pada keadaan tertentu, misalnya akibat
pengaruh toksin yang bekerja terhadap endotel, permeabilitasi kapiler dapat
bertambah. Akibatnya ialah protein plasma keluar kapiler, sehingga tekanan
osmotic koloid darah menurun sebaliknya tekanan osmotic cairan interstitium
bertambah. Hal ini mengakibatkan makin banyak cairan yang meninggalkan kapiler
dan menimbulkan edema. Bertambahnya permeabilitas kapiler dapat terjadi pada
kondisi infeksi berat dan analfilaksi.
4. Hipoproteinemia
Menurunnya jumlah protein darah (hipoproteinemia)
menimbulkan rendahnya daya ikat air protein plasma yang tersisa, sehingga
cairan plasma merembes keluar caiaran vaskula sebagai cairan edema. Kondisi
hipoproteinemia dapat diakibatkan kehilangan darah secara kronis oleh cacing
heamonchus contortus yang menghisap darah di dalam mukosa lambung kelenjar
(abomasum) dan akibat kerusaka pada ginjal yang menimbulkan gejala abluminuria
(proteinuria, protein darah ablumin keluar bersama urin) berkepanjangan. Hipoproteinemia
ini biasanya mengakibatkan edema umum.
5. Tekanan
osmotic koloid
Tekanan osmotic koloid dalam jaringan biasanya hanya
kecil sekali, sehingga tidak dapat melawan tekanan osmotic yang dapat dalam
darah. Tetapi pada keadaan tertentu jumlah protein dalam jaringan dapat
meninggi, misalnya jika permeabilitas kapiler bertambah. Dalam hal ini maka
tekanan osmotic jaringan dapat menyebabkan edema.
Filtrasi cairan plasma juga mendapat perlawanan dari
tekanan jaringan (tissue tension) tekanan ini berbeda- beda pada berbagai
jaringan. Pada jaringan subcutis yang renggang seperti kelopak mata, tekanan
sangat rendah, oleh karena itu pada tempat tersebut mudah timbul edema.
6. Retensi
natrium dan air
Retensi natrium terjadi bila eksteresi natrium dalam kemih
lebih kecil dari pada yang masuk ( intake). Karena konsentarasi natrium
meninggi maka akan terjadi hipertoni. Hipotoni menyebebkan air ditahan,
sehingga jumlah cairan ekstraselular dan eksravaskular (cairan interstitium)
bertambah. Akibat terjadi edema.
4.2 Kaki
Begkak
Kaki bengakak (anakle edema) adalah pembengkakan
pada tungkai bahwa yang disebabkan oleh penumpukan cairan pada kaki tersebut.
Banyak faktor yang menyebabkan anakle edema ini. Faktor yang berperan adalah
kadar protein (ablumin) dalam darah yang rendah, fungsi pompa jantung menurun,
sumbatan pembuluh darah atau pembuluh limfe, penyakit liver dan ginjal kronis,
posisi tungkai terlalu lama tergantung ( gravitasi). Ankle edema ini terjadi
pada kedua tungkai tetapi dapat juga terjadi pada tungkai saja. Ankle edema
hanya satu tungkai saja disebabkan karena aliran pembuluh darah atau pembuluh
limfe tersembat, sumbatan ini dapat terjadi karena darah yang kental lalu
membeku didalam pembuluh darah yang menekan pembuluh darah atau pembuluh limfe.
Pemeriksaan yang dilakukan sangat mudah yakni
denan menekan pada daerah mata kaki akan timbul cekungan yang cukup lama
untukkembali pada keadaan normal. Pemeriksaan lanjutan untuk menentukan
penyebab dari ankle edema adalah menentukan kadar protein darah dan di air seni
( urin ), pemeriksaan jantung ( rontgen dada,EKG) fungsi liver dan ginjal.
Pengobatan awal yang dapat dilakukan dengan
mengganjal kaki agar tidak tergantung dan meninggkan kaki pada saat berbaring.
Pengobatan lanjutan disesuaikan dengan penyebab yang mendasarinya.
4.3 Hindari
penyebab Oedema
Kaki bengkak alias edema ini pada umumnya normal terjadi
pada wanita hamil. Tapi anda sebaiknya tetap waspada. Pembengkakan atau
edema selama hamil, terutama terjadi di trimester terakhir. Namun ada juga ibu
hamil yang mulai merasa ada pembengkakan saat usia kehamilan baru 5
bulan. Tubuh wanita hamil
memproduksi darah dan cairan tubuh kira-kira 30% lebih banyak. Hal ini untuk
memenuhi kebutuhan pertumbuhanjanin. Cairan yang meningkat inilah diduga
penyebab edema. Meski ada juga penyebab lain yaitu adanya gangguan sirkulasi
darah.
Rahim yang terus bertambah
besar akan terus menekan pembuluh darah dipanggul serta vena. Hal ini
diperberat lagi dengan adanya gaya gravitasi bumi yang menyebabkan gaya tarikan
ke bawah. Itu sebabnya, pembengkakan umumnya terjadi di kaki. Biasanya
pembengkakan bertambah buruk di sore hari akibat anda lama berdiri, atau jika
anda berada di lingkungan yang panas. Selain di kaki, pembengkakan juga bisa
terjadi diwjah, tangan, dan bagian tubuh yang lain. Pembengkakan yang
terjadi selama kehamilan umumnya bukan merupakan masalah serius, walau mungkin
menimbulkan rasa tidak nyaman dan merepotkan. Sebagian besar ibu hamil
merasakan pembengkakan yang dialaminya
berkurang setelah berbaring beberapa jam, atau setelah tidur di malam hari.
Jika pembengkakan yang
anda alami tidak tidak kunjung berkurang setelah anda beristirahat
beberapa jam, sebaiknya waspada. Siapa tau anda termasuk golongan ibu hamil
yang beresiko tinggi mengalami komplikasi kehamilan yang di kenal dengan nama
pre-eklamsi.
4.4 Bengkak
Pada Tangan Dan Kaki ( Oedema)
Apa yang anda dikenali sebagai penyakit oedema. Ia adalah
akibat cairan berlebihan yabg berkumpul semasa kehamilan anda. Rahim anda yang
sedang membesar juga memberi tekanan pada vena anda. Kadang kala wanita hamil
juga menyimpan air berlebihan, yang menjadikan keadaan bengkak lebih terus.
Malangnya, wanita hamil mudah untuk mengalami penyakit oedema. Namun begitu, jika anda mengalami bengkak yang terus pada tangan dan muka anda, hubungi dokter. Karena mungkin saja itu tanda pre-eklamsi, dan sejenis penyakit – penyakit yang serius.
4.5 Eklamsi
dan preeklamsi
Biasanya orang menyebutnya keracunan. Ini
ditandai dengan munculnya tekanan darah tinggi, oedema atau pembengkakan pada
tungkai, dan bila diperiksa dilaboratorium urinnya terlihat mengandung protein.
Dikatakan eklamsi bila sudah terjadi kejang. Kalau hanya gejala dan
tanda-tandanya saja dikatakan preeklamsi.Asal tahu saja, gangguan ini merupakan
penyebab kematian ibu yang nomor satu. Penyebabnya sendiri sebetulnya masih
berupa silang pendapat. Ada yang mengatakan akibat kekurangan asam arakkidonat,
dari kacang-kacangan, ada juga yang menduga akibat stres pada ibu dan faktor
emosional lainnya.
Selama masa nifas di hari ke-1 sampai 28, ibu harus mewaspadai munculnya gejala preeklamsi. Jika keadaannya bertambah berat bisa terjadi eklamsi, dimana kesadaran hilang dan tekanan darah meningkat tinggi sekali. Akibatnya, pembuluh darah otak bisa pecah, terjadi oedema pada paru-paru yang memicu batuk darah. Semuanya ini bisa menyebabkan kematian.
BAB IV
PENUTUP
5.1 Kesimpulan
Edema ialah penimbunan cairan secara umum dan berlebihan dalam
jaringan dan biasanya dapat diketahui dari kenaikan berat badan serta
pembengkakan kaki, jari tangan dan muka. Untuk menghidari hal-hal
yang tidak di inginkan, bidan harus terus memantau tekanan darah, berat badan,
dan protein urin pasien. Agar ginjal kembali normal, ibu hanil harus menjalani
diet tinggi protein ( mengonsumsi daging, ikan, telur, susu dan kacang-kacangan),
diet rendah garam natrium, rendah karbohierat, dan perbanyak minum air putih.
Sedangkan diet rendah garam berguna untuk menghentikan kelebihan garam.
Perlu diketahui, kelebihan
garam akan menyebabkan pengurangan air dalam ginjal karena natrium tidak keluar
ginjal. Natrium yag tertinggal ditubuh tadi, menyerap lebih banyak air dan air
ditimbun dirongga antar sel tadi, alhasil darah mengeluarkan lebih banyak tenaga
kedinding arteri sehingga tekanan darah pun meningkat.
Tentunya bukan Cuma garam
dapur saja dibatasi, konsumsi bahan makanan yang diolah menggunakan garam
natrium pun sebaiknya dijauhi. Misalnya, produk makanan yang diawetkan dengan
garam, juga bumbu-bumbu instan yang menggunakan garam dapur. Umumnya dalam keadaan normal, kita mengonsumsi
garam dapur tidak lebih dari 7-15 gr per hari. Dalam keadaan oedema, sebaiknya
tak lebih dari 1-2 gr.
Selain itu, pasien
diharapkan melakukan istirahat total di tempat tidur. Ini penting karena
terlalu bergerak akan meningkatkan gerak jantung. Peningkatan tekanan ini
menyebabkan tekanan darah menungkat pula. Bila upaya istirahat total
telah dilakukan tapi tekanan darah tetapi meningkat di atas 160/100 mmHg
, pasien akan diberi magnesium untuk menghindari kejang.
Dipihak lain, oedema sebenarnya juga terjadi karena penyakit hepar, liver, dan gagal ginjal. Jadi, waspada harus jalan terus. Rajinlah berkonsultasi dengan bidan dan dokter anda agar tidak terjadi sesuatu yang tidak di inginkan.
KATA PENGANTAR
Puji syukur kami panjatkan atas kehadiran
ALLAH SWT yang telah melimpahkan rahmat serta hidayahnya kepada kami
sehingga kami dapat menyelesaikan makalah asuhan kebidanan III dengan baik dan
tridak ada halangan.
Dalam penyusunan ini tentunya kami tidak
lepas dari bantuan dan kerjasama dari pihak – pihak yang terkait baik secara langsung
maupun tidak langsung. Kami mengharapkan kritik dan saran yang sifatnya bisa
membangun agar dalam pembuatan makalah yang akan datang akan lebih baik lagi
dari hasil yang sekarang dari makalah ini.
Demikian makalah yang kami susun
mudah-mudahan makalah ini dapat bermanfaat dan berguna bagi semua yang
membacanya dan menambah pengetahuan serta wawasan pembaca, akhir kata dan
kesempurnaan hanya milik ALLAH SWT dan
kekurangan hanya milik kita semua.
Sumenep,november
2020
Penyusun
Pembengkakan Pada Wajah dan Ekstremitas
Diajukan
untuk memenuhi tugas mata kuliah asuhan kebidanan
Dosen : EVA NURHIDAYATI, S.St.,M.Kes
Disusun oleh :
EKA CHORIZAH FARADILA
UNIVERSITAS WIRARAJA MADURA
FAKULTAS ILMU KESEHATAN
Jl. Raya
Sumenep-Pamekasan KM. 05 Patean, Panitian Utara, Patean, Batuan,
Kabupaten Sumenep, Jawa
Timur 69451
2019/ 2020
Komentar
Posting Komentar