hubungan tingkat pengetahuan,sikap dan keterjangkauan jarak pelayanan kesehatan terhadap kejadian drop out alat kontrasepsi suntik pada pasangan usia subur(PUS)

 

 

Vol. I1 No. 2 Hal. 117-125  I  e-ISSN 2614-7874

Diterbitkan oleh:

Jurnal Bidan Komunitas                                                                                 Prodi D4 Kebidanan

http://ejournal.helvetia.ac.id/index.php/jbk                                                                 Fakultas Farmasi dan Kesehatan Institut Kesehatan Helvetia

 

 ARTIKEL PENELITIAN                                                                                                         

 

HUBUNGAN TINGKAT PENGETAHUAN, SIKAP DAN KETERJANGKAUAN JARAK PELAYANAN KESEHATAN TERHADAP KEJADIAN DROP OUT ALAT KONTRASEPSI SUNTIK PADA PASANGAN USIA SUBUR (PUS) DI WILAYAH KERJA PUSKESMAS SEKUPANG KOTA BATAM

 

Desi Ernita Amru

Dosen Kebidanan STIKes Mitra Bunda Persada Batam

*dhesyamru12@gmail.com

 

Abstrak

Latar Belakang : Masalah kependudukan merupakan masalah yang dihadapi oleh semua negara baik negara maju maupun negara berkembang, termasuk Indonesia. Untuk menekan laju pertumbuhan penduduk, pemerintah melakukan Program Keluarga Berencana Nasional. kemudian menjadi permasalahan adalah terdapat pasangan usia subur (PUS) yang tidak aktif lagi menggunakan kontrasepsi (drop out).

Tujuan : penelitian ini untuk mengetahui Hubungan Tingkat Pengetahuan, Sikap dan Keterjangkauan Jarak Pelayanan Kesehatan Terhadap Kejadian Drop Out Alat Kontrasepsi Suntik Pada Pasangan Usia Subur (PUS) Di Wilayah Kerja Puskesmas Sekupang Kota Batam Tahun 2017. Metode : Jenis penelitian ini adalah Analitik dengan pendekatan cross sectional. Populasi dalam penelitian ini adalah Pasangan Usia Subur yang Berada di wilayah Kerja Puskesmas Sekupang Kota Batam berjumlah 13.477 orang. Sampel sebanyak 388 orang, diambil dengan teknik Stratified Random Sampling. Data dianalisis dengan HUbungan menggunakan uji chi-squareHasil : penelitian menunjukkan bahwa mayoritas PUS berpengetahuan kurang sebanyak 201 orang (51,8%), berdasarkan sikap mayoritas PUS bersikap  negatif sebanyak 224 orang (57,7%), dan berdasarkan kategori keterjangkauan jarak pelayanan kesehatan mayoritas PUS sulit menjangkau jarak/tempat pelayanan sebanyak 202 orang (52,1%).Kesimpulan : penelitian ini, bahwa faktor pengetahuan, sikap dan jarak pelayanan kesehatan mempengaruhi kejadian drop out alat kontrasepsi suntik pada pasangan usia subur (PUS) di wilayah kerja Puskesmas Sekupang Kota Batam Tahun 2017. Disarankan kepada Pasangan usia subur untuk lebih giat lagi mencari informasi tentang penggunaan alat kontrasepsi Sehingga sasaran program KB khususnya akseptor yang menggunakan alat kontrasepsi suntik dapat meningkat.

KataKunci:Pengetahuan,Sikap, Keterjangkauan Jarak, Drop Out

 

Relationship The Level Of Knowledge, Attitude And Distance Of Health Services The Incidence Of Drop Out Injections Contraception On Fertile Agecouple In The Working Area Of Sekupang Health Center In Batam City

 

Abstract

Background  : population  problems  are  a problem  faced  by  all  countries  , both  developed  and

developing countries, including  indonesia. to reduce the rate of population growth , the goverment carried


 

out a national family planning program then the problem is that . there are fertile couple who are no longer active in using contraseption ( Drop out ) Objective: this study was determine a relationship  between the level of knowledge, attitudes, and affordability of the distance of health service to the incidence of injection drop contraceptives in couple of childbearing age in the working area of the health center arround the city of batam in 2017. Method:The type of this research is an Analytic with a cross sectional approach. The populations in this study fertile agecouple in the working area of sekupang health center in batam city as many as 13.477 people and the sample were 388 people which was taken by Stratified Random Sampling techniques. The data were analyzed by using the chi-square test. Results: showed that the knowledge of the majority of respondents had less knowledge as many as 201 people (51,8%), based on the attitude of the majority behaving negatively as many as 224 people (57,7%), and based on the affordability category the distance/place of service as many as 202 people (52,1%) Conclusion: of this study shows that the factors of knowledge, attitudes, and distance of health services influence the incidence of injection contraception dropouts in couples of childbearing age in the working area of sekupang health center in batam in 2017. It is recommended for couples of childbearing age to be more active in seeking information about contraceptive use so that the target of the KB program especially those using injectable contraception can increase.

Keywords: Knowledge, Attitude, Distance/place Of Services, Drop Out

 


PENDAHULUAN

Masalah kependudukan merupakan masalah yang dihadapi oleh semua negara baik negara maju maupun negara berkembang, termasuk Indonesia (1).

Menurut Kepala BKKBN Sugiri Syarif bahwa dalam kurun waktu lima tahun kebelakang tingkat kelahiran penduduk Indonesia tetap bertahan pada posisi 2,6 % per Pasangan Usia Subur per tahun atau tidak ada penurunan tingkat kelahiran selama lima tahun terakhir. Dalam jangka panjang Indonesia berpotensi mengalami ledakan penduduk. Salah satu upaya mengendalikan pertumbuhan penduduk tersebut dengan program keluarga berencana. Akan tetapi, yang kemudian menjadi permasalahan adalah terdapat pasangan usia subur (PUS) yang tidak aktif lagi menggunakan kontrasepsi (drop out). (2).

Akseptor drop out KB adalah akseptor yang menghentikan kontrasepsi lebih dari 3 bulan. Dampak yang ditumbulkan dari meningkatnya angka drop out KB adalah meningkatya jumlah penduduk sehingga akan berdampak pada tingkat kesejahteraan, kualitas pendidikan, pembangunan, dan kesehatan sahingga akan menurunkan kualitas penduduk suatu Negara. Terdapat beberapa alasan drop out antara lain takut efek samping dari program KB yang digunakan, menginginkan kehamilan, biaya yang mahal, rasa tidak nyaman dari alat kontrasepsi yang digunakan, perceraian,


frekuensi hubungan seksual yang jarang dan kegagalan alat kontrasepsi yang digunakan(3).

Sasaran yang harus dicapai dalam Rencana Pembangunan Jangka Menengah (RPJM) tahun 2015-2019 antara lain menurunkan laju pertumbuhan penduduk, menekan angka kelahiran (TFR), meningkatkan pemakaian kontrasepsi /CPR (Menurunkan tingkat putus pakai kontrasepsi/drop out dan meningkatkan penggunaan Metode kontrasepsi jangka panjang), Menurunkan kebutuhan ber-KB yang tidak terpenuhi (unmet need), menurunkan angka kelahiran pada remaja usia 15-19 tahun dan menekan presentase kehamilan yang tidak di inginkan (4).

Penurunan tajam dalam hal pemakaian kontrasepsi terjadi pada tahun 2015. Presentase pemakaian kontrasepsi (CPR) all method pada tahun 2015 adalah sebesar 59,98%. Jumlah ini turun jika dibandingkan tahun 2012 angka CPR sebesar 61,9%. RPJMN 2019 mengharapkan adanya kenaikan Contraceptive prevalence Rate (CPR) menjadi sebesar 66%. Pemakaian kontrasepsi modern juga memperlihatkan penurunan sejak tahun 2012 hingga 2015. Angka kelahiran total (Total Fertility Rate, TFR) pada tahun 2015 menggambarkan adanya penurunan dari 2,379 pada tahun 2013 menjadi 2,289 di tahun 2015. Pada RPJMN 2019 diharapkan agar Angka kelahiran total (Total Fertility Rate, TFR) sebesar


 

 


2,28 per wus (5). Data World Health Organization (WHO) menunjukkan bahwa persentase penggunaan macam-macam alat kontrasepsi meliputi persentase peserta baru terhadap pasangan usia subur di Indonesia pada tahun 2015 sebesar 13,46%. Angka ini lebih rendah dibandingkan capaian tahun 2014 yang sebesar 16,51%. terbanyak adalah suntik KB sebesar 47,54%, diikuti dengan penggunaan KB Pil sebesar 23,58%, IUD 11,07%, Implant 10,46%. Sedangkan metode kontrasepsi yang paling sedikit dipilih oleh peserta KB aktif yaitu kondom 3,15 %, MOW sebanyak 3,52%, MOP sebanyak 0,69%. 7 Sasaran

Strategis BKKBN 2015 2019 adalah menurunkan tingkat putus pakai kontrasepsi all method menjadi sebesar 24,6%. Tingkat putus pakai (drop out) masing-masing alat kontrasepsi KB pada tahun 2015 Pil sebesar 40,7%, KB suntik 20,7%, IUD 7,9% dan Implan 5,7% (6).

Berdasarkan laporan BKKBN Kota Batam tahun 2016 diketahui bahwa TFR (Total Fertility rate) di Kota Batam sebesar 2.248, CPR (Contraceptive Prevalence Rate) sebesar 82,17. Jumlah PUS 191.300 dan angka drop out (Putus Pakai) sebesar 41.430. Jumlah akseptor Drop Out (Putus Pakai) tertinggi di Wilayah Kerja Puskesmas Sekupang yaitu sebanyak 2,060 akseptor (15,3%), Puskesmas Kabil sebanyak 643 akseptor  (13,8%),  Puskesmas  Batu  Aji  sebanyak

313   akseptor  (1,45%),  Puskesmas  Sambau sebanyak 297 akseptor (5,0%), dan Puskesmas Tanjung Buntung sebanyak 75 akseptor (0,7%). (7) Data Drop Out yang diperoleh dari Puskesmas Sekupang dari bulan Januari - April 2017 didapatkan sebanyak 320 akseptor drop out KB dimana akseptor KB suntik sebanyak 157 orang (49.06%), Pil sebanyak 76 orang (23.75%), kondom  sebanyak  52  orang  (16.25%),                  Implant sebanyak 22 orang (6.87%), dan IUD sebanyak  13

orang (4.06%) (8).

Survei awal yang dilakukan oleh peneliti dengan  mengunakan  metode  wawancara terhadap

7 wanita pasngan usia subur drop out alat kontrasepsi suntik di dapatakan 1 orang hamil karena ketidakpatuhan menggunakan kontrasepsi suntik (telat dari  jadwal suntik), 2 orang  drop  out


alat kontrasepsi suntik karena jarang melakukan hubungan seksual (suaminya bekerja di luar kota),

3 orang mengatakan biaya penggunaan yang mahal, dan 1 orang mengatakan karena suami tidak mengijinkan.

Penelitian yang berhubungan secara langsung maupun tidak langsung dengan kejadian drop out akse

ptor KB pada pasangan usia subur dilakukan Rery Kurniawati tahun 2011 tentang “Analisis Faktor-faktor yang berpengaruh terhadap perilaku drop out KB suntik di Desa Caringin Kabupaten Padeglang Banten” Hasil penelitian menunjukkan terdapat 23.3% peserta drop out, faktor yang paling berpengaruh terhadap perilaku drop out KB berturut-turut adalah umur, sikap dan dukungan suami (9).

Penelitian yang dilakukan oleh Setyo Edy Prasetyo tahun 2015 membahas tentang “Analisis Faktor Yang Berhubungan Dengan Kejadian Drop Out Akseptor KB kecamatan Gunungpati Kota Semarang” didapatkan hasil faktor yang berhubungan dengan kejadian drop out akseptor KB Kecamatan Gunungpati Kota Semarang adalah dukungan pasangan. Sementara itu tidak ada hubungan antara faktor umur, pekerjaan, tingkat pendidikan, pengetahuan, persepsi paritas/jumlah anak dan sosial budaya (10).

Hasil penelitian yang dilakukan oleh Dyah Permata sari (2015) tentang “Analisis Faktor- Faktor Yang Melatarbelakangi Drop Out Pada Akseptor KB Suntik Di Puskesmas Krebet Kecamatan Pilangkenceng Kabupaten Madiun” didapatkan hasil hampir setengah dari responden (38,8%) tidak memperoleh pembinaan pasca pelayanan, sebagian besar responden (51,5%) dikarenakan alasan ferlititas dan hampir setengah dari responden (47,8%) karena faktor lain yang berhubungan dengan alat kontrasepsi salah satunya karena efek samping alat kontrasepsi (11).

Penelitian yang dilakukan fajar, Mohammad Ikhsan, dkk (2013) tentang “Analisis Faktor Yang Berhubungan Dengan Kejadian Drop Out KB Suntik Pada Akseptor KB di Wilayah Kerja Puskesmas Mitra Keluarga Bersemi Lompoe Kota Parepare” didapatkan hasil bahwa Hasil


 


penelitian menunjukan ada hubungan antara pengetahuan, tingkat pendidikan, dan tingkat pendapatan keluarga dengan kejadian drop out alat KB. Sedangkan efek samping, dukungan suami tidak berhubungan dengan kejadian drop out KB (12).

Hasil penelitian yang dilakukan oleh Puput Ariska (2014) dengan judul “Faktor Penyebab Drop Out Peserta KB Di Desa Sidokaton Kecamatan Kudu Kabupaten Jombang” dengan hasil penelitian didapatkan bahwa (35,13%) responden drop out dari peserta KB karena ingin hamil atau ingin mempunyai anak segera, efek samping (24,32%), ganti cara (16,21%), suami meninggal atau bercerai (8,10%), menopause (8,10%), jarang berhubungan seksual (5,40%), dan

suami tidak setuju (2,70%) (13).

Hasil penelitian yang dilakukan oleh Lely Indrawati (2013) dengan judul “Determinan Kejadian Berhenti Pakai (Drop Out) Kontrasepsi Di Indonesia” dengan hasil penelitian didapatkan alasan terbanyak berhenti pakai penggunaan kontrasepsi adalah sudah tidak memerlukan lagi (31%), ingin punya anak (26%), takut efek samping (14%), dan tidak menginginkan lagi (10%) (14).

Hasil penelitian yang dilakukan oleh Anisah Yulitama (2013) dengan judul “Angka Kejadian Drop Out Pada Akseptor KB Di Wilayah Kerja Puskesmas Kutorejo Kabupaten Mojokerto” dengan hasil penelitian didapatkan beberapa alasan dropout KB, tingkat teratas adalah keinginan untuk hamil     yaitu     sebanyak     91     orang   (44,4%),

menopause sebanyak 55 orang (26,8%), meninggal

dunia  sebanyak  22   orang   (10,7%),  pindah

kontrasepsi   sebanyak   18   orang   (8,58%),   cerai

sebanyak  14  orang  (6,8%),  komplikasi   medis  5

orang (2,4%).

Tujuan penelitian ini adalah Untuk mengetahui Hubungan Tingkat Pengetahuan, Sikap dan Jarak Pelayanan Kesehatan terhadap kejadian Drop Out Alat Kontrasepsi Suntik Pada Pasangan Usia Subur Diwilayah Kerja Puskesmas Sekupang Kota Batam Tahun 2017.


METODE PENELITIAN

Penelitian ini dilakukan tahun 2017 dengan sampel Pasangan Usia Subur yang berada di Wilayah Kerja Puskesmas Sekuang Kota Batam, dengan menggunakan teknik pengambilan sampel dalam penelitian ini menggunakan metode Stratified Random Sampling. Jenis penelitian yang digunakan adalah analitik dengan pendekatan cross sectional untuk mengetahui hubungan antara variabel bebas (pengetahuan, sikap,dukungan suamiTingkat Pengetahuan, sikap dan Jarak Pelayanan Kesehatan) dan variabel terikat (Kejadian Drop Out Alat Kontrasepsi Suntik). Sumber data diambil dari data primer dan sekunder. Data primer menggunakan kuesioner berisi pernyataan-pernyataan tentang variabel penelitian yaitu pengetahuanibu, sikap ibudandukungan suamidengan skala likert. Data sekunder menggunakan dokumen atau catatan yang diperoleh dengan mengambil data dari Puskesmas Sekupang. Analisa data menggunakan program SPSS, analisis univariat digunakan untuk mendeskripsikan data yang dilakukan pada tiap variabel dari hasil penelitian. Data disajikan dalam tabel distribusi frekuensi. Analisa bivariat digunakan untuk mengetahui hubungan (korelasi) antara variabel bebas (independent variable) dengan variabel terikat (depend variable).

 

HASIL

Karakteristik responden

Berdasarkan tabel 1. Dibawah diketahui diatas dari 388 responden terdapat 115 responden (29,6%) dalam kelompok umur <20 dan >35 tahun

, dan 273 responden (70,4 %) dalam kelompok umur 20-35 tahun. Diketahui pendidikan responden terbanyak pada responden lulusan Menengah sebanyak 257 responden (66,2%), dan responden lulusan perguruan Tinggi sebanyak 131 responden (33,8%). Responden terbanyak adalah ibu dengan paritas primipara sebanyak 262 responden (67,5%), dan terkecil ibu dengan paritas multipara     sebanyak     126     responden  (32,5%)


 

Tabel 1 Distribusi Frekuensi Karakteristik Pasangan Usia Subur (PUS) di Wilayah Kerja Puskesmas Sekupang Kota Batam

 

Karakteristik

Frekuensi

Persentase (%)

Umur

<20 dan >35 tahun

 

115

 

29,6

20-35 tahun

273

70,4

Total Pendidikan Menengah Tinggi Total Paritas Primipara

Multipara Total

388

 

257

131

388

 

262

126

388

100

 

66,2

33,8

100

 

67,5

32,5

100

 

Tabel 2 Distribusi Frekuensi Responden berdasarkan Pengetahuan, Sikap, Jarak Pelayanan Kesehatan terhadap Kejadian Drop Out Alat Kontrasepsi Suntik Pada Pasanganh Usia Subur (PUS) di Wilayah Kerja Puskesmas Sekupang Kota Batam

Variabel

Frekuensi

Persentase (%)

Pengetahuan

 

 

Kurang

201

51,8

Baik

187

48,2

Sikap

 

 

Negatif

224

57,7

Positif

164

42,3

Keterjangkauan Jarak Pelayanan

Kesehatan

 

 

Sulit

202

52,1

Mudah

186

47,9

Kejadian Drop Out Alat

Kontrasepsi

 

 

Drop Out

200

51,5

Aktif

188

48,5

 


Berdasarkan tabel 2. di diatas diperoleh bahwa dari 388 responden, mayoritas berada pada ibu yang berpengetahuan kurang tentang drop out alat kontrasepsi suntik sebanyak 201 responden (51,8%), dan minoritas berada pada ibu yang berpengetahuan baik tentang drop out alat kontrasepsi suntik sebanyak 187 responden (48,2%). Pada kategori sikap mayoritas berada pada ibu yang memiliki sikap negatif terhadap drop out alat kontrasepsi suntik sebanyak 224 responden (57,7%).


Kelompok minoritas berada pada ibu yang memiliki sikap positif terhadap drop out alat kontrasepsi suntik sebanyak 164 responden (42,3%), selanjutnya untuk kategori keterjangkauan jarak pelayanan kesehatan mayoritas mengatakan sulit menjangkau tempat pelayanan kesehatan sebanyak 202 responden (52,1%), dan minoritas mengatakan mudah menjangkau tempat pelayanan kesehatan sebanyak 186 responden (47,9%), mayoritas pasangan usia subur menjadi akseptor drop out


Text Box: Jurnal Bidan Komunitas, Vol. I1 No. 2 Hal. 117-125, e-ISSN 2614-7874

 


alat kontrasepsi suntik sebanyak 200 responden (51,5%), dan minoritas yang masih aktif


menjadi   akseptor   alat    kontrasepsi   suntik sebanyak 188 responden (48,5%).


 

Tabel 3Tabulasi Silang Antara Pengetahuan, Sikap, dan Keterjangkauan Jarak Pelayanan Kesehatan terhadap Kejadian Drop Out Alat Kontrasepsi Suntik Pada Paangan Usia Subur (PUS) di Wilayah Kerja Puskesmas Sekupang Kota Batam

Senam Hamil


Variabel


Rutin                     Tidak rutin


Jumlah               p-

value


f                   %               f           %           f              %

Pengetahuan

 

Kurang

118

58,7

83

41,3

201

100        0,005

Baik

82

43,9

105

56,1

187

100

Sikap

 

 

 

 

 

 

Negatif

129

57,6

95

42,4

224

100       0,007

Positif

71

43,3

93

56,7

164

100

Keterjangkauan

 

 

 

 

 

 

Jarak Pelayanan

 

 

 

 

 

 

Kesehatan

 

 

 

 

 

 

Sulit

122

60,4

80

39,6

202

100       0,000

Mudah

78

41,9

108

58,1

186

100

 


Berdasarkan tabel 3. diatas dari 201 ibu dengan pengetahuan kurang ada sebanyak 118 ibu drop out alat kontrasepsi (58,7%) dan 83 ibu yang masih aktif alat kontrasepsi suntik (41,3%), sedangkan dari 187 ibu dengan pengetahuan baik sebanyak 82 ibu yang drop out (43.9%) dan 105 (56,1%) ibu yang aktif menggunakan alat kontrasepsi suntik.

Dari 224 ibu yang mempunyai sikap negatif sebanyak 129 ibu yang drop out alat kontrasepsi suntik (57,6%) dan 95 ibu yang aktif menggunakan alat kontrasepsi suntik (42,4%), sedangkan dari 164 ibu yang

mempunyai sikap positif sebanyak 71 (43,3%) ibu yang drop out alat kontrasepsi suntik dan 93 (56,7%) ibu yang aktif menggunakan kontrasepsi suntik.

Dari 202 ibu yang mengatakan sulit menjangkau jarak/tempat layana KB ada sebanyak 122 (60,4%) ibu drop out alat kontrasepsi suntik dan 80 (39,6%) ibu aktif menggunakan alat kontrasepsi suntik, sedangkan dari 186 ibu yang mengatakan mudah menjagkau jarak/tempat layanan KB sebanyak 78 (41,9%) ibu yang drop out alat


kontrasepsi suntik dan 108 (58,1%) ibu yang aktif menggunakan alat kontrasepsi suntik.

Hasil uji statistik lebih lanjut diperoleh masing- masing diperoleh nilai p value adalah pengetahuan( 0,005< 0,05), sikap (0,007< 0,05), Keterjangkauan jarak pelayanan kesehatan (0,000< 0,05) sehingga dapat disimpulkan bahwa ada hubungan pengetahuan sikap dan keterjangkauan jarak pelayanan kesehatan terhadap kejadian drop out alat kontrasepsi suntik pada pasangan usia subur di Wilayah Kerja Puskemsas Sekupang Kota Batam Tahun 2017.

 

PEMBAHASAN

Hubungan Pengetahuan Pasangan Usia Subur (PUS) Terhadap Kejadian Drop Out Alat Kontrasepsi Suntik

Hasil analisis hubungan antara pengetahuan PUS terhadap kejadian drop out alat kontrasepsi suntik di Wilayah Kerja Puskesmas Sekupang Kota Batam diperoleh nilai p value adalah 0,005 < 0,05  sehingga dapat disimpulkan bahwa ada hubungan pengetahuan PUS terhadap kejadian drop out


 


alat kontrasepsi suntik di Wilayah Kerja Puskesmas Sekupang Kota Batam Tahun 2017.

Hasil penelitian ini sejalan dengan penelitian yang di lakukan oleh Rury Kurniawati Tahun 2011 tentang “analisis factor-faktor yang berpengaruh terhadap perilaku drop out KB suntik di Desa Caringan Kabupaten Padeglang Banten” di dapatkan hasil sebagian besar responden memiliki pengetahuan rendah sebesar 57,5 % dan 42,5 % dengan karegori pendidikan tinggi. Sikap merupakan hal yang penting dalam kehiduan sehari-hari, jika sikap tersebut sudah terbentuk dalam kehidupan seseorang selanjutnya akan ikut menentukan tingkah lakunya terhadap sesuatu.

Hasil penelitian ini juga sejalan dengan teori yang disampaikan oleh Notoatmodjo (2007) menjelaskan bahwa pengetahuan merupakan domain yang sangat penting dalam membentuk tindakan seseorang. Perilaku yang didasari oleh pengetahuan akan lebih langgeng daripada perilaku yang tidak didasari oleh pengetahuan (15).

Hasil ini sesuai dengan penelitian Saptono Imam Budisantoso (2001) yang menyatakan bahwa ada hubungan antara pengetahuan dengan drop out penggunaan alat kontrasepsi. Berdasarkan penelitian yang dilakukan oleh Kundi Ardiyan dalam viviroy Tahun 2008 di Kelurahan Sumbersari Kabupaten Jember periode 2004–2005 didapatkan bahwa tingkat pengetahuan PUS tentang KB dan metode kontrasepsi cukup tinggi sebesar 53,5% (16).

Hasil penelitian ini juga sesuai dengan teori yang dikembangkan oleh Green, bahwa pengetahuan adalah faktor prediposisi yang menentukan perilaku seorang. Pengetahuan merupakan hasil “tahu”, dan ini terjadi setelah orang melakukan pengindraan terhadap suatu objek tertentu. Pengindraan terjadi melalui pancaindra manusia yaitu : indra penglihatan, pendengaran, penciuman, raba, dan rasa. Sebagian besar pengetahuan manusia diperoleh melalui mata dan telinga (17).


Menurut peneliti bahwa pengetahuan seseorang akan mempengaruhi dirinya dalam menerima maupun mengatahui segala informasi termasuk informasi tentang KB dan alat kontrasepsi, semakin tinggi tingkat pengetahuan seseorang akan semakin tinggi kesadarannya untuk mengikuti program keluarga berencana. Pada umumnya meningkatnya pengetahuan tentang KB dan alat kontrasepsi akan diikuti oleh makin tingginya tingkat keaktifan pemakaian kontrasepsi sehingga kejadian drop out kontrasepsi menurun.

 

Hubungan Sikap Pasangan Usia Subur (PUS) Terhadap Kejadian Drop Out Alat Kontrasepsi Suntik

Hasil analisis hubungan antara sikap Pasangan Usia SUbur (PUS) terhadap kejadian drop out alat konrasepsi suntik Tahun 2017, hasil uji statistik lebih lanjut diperoleh nilai p value adalah 0,007 < 0,05 sehingga  dapat disimpulkan bahwa ada ada hubungan sikap Pasangan Usia SUbur (PUS) terhadap kejadian drop out alat konrasepsi suntik Tahun 2017.

Hasil penelitian ini sejalan dengan penelitian yang di lakukan oleh Rury Kurniawati Tahun 2011 tentang “analisis factor-faktor yang berpengaruh terhadap perilaku drop out KB suntik di Desa Caringan Kabupaten Padeglang Banten” di dapatkan hasil sebagian besar responden memiliki sikap rendah (negatif) sebesar 59,2 % dan 40,8 % dengan karegori sikap tinggi (positif) (9).

Penelitian ini didukung dengan teori yang disampaiakan oleh Saptono Imam Budisantoso, 2001. Sikap merupakan kesiapan untuk bereaksi terhadap suatu obyek dengan cara tertentu serta merupakan respon evaluatif terhadap pengalaman kognitif, reaksi afeksi, kehendak dan perilaku masa lalu. Sikap akan mempengaruhi proses berpikir, respon afeksi, kehendak dan perilaku berikutnya. Jadi sikap merupakan respon evaluatif didasarkan proses evaluasi diri, yang disimpulkan berupa penilaian positif atau negatif yang kemudian mengkristal sebagai potensi reaktif terhadap objek. Adanya hubungan yang erat antara sikap


 


dan perilaku didukung oleh pengertian sikap yang menyatakan bahwa sikap merupakan kecenderungan untuk bertindak.

Sikap merupakan hal yang penting dalam kehidupan sehari-hari, bila sikap sudah terbentuk dalam diri seseorang selanjutnya akan ikut menentukan perilakunya terhadap sesuatu. Dalam konteks penelitian ini, akseptor yang mempunyai sikap positif terhadap kontrasepsi tidak akan melakukan perilaku drop out KB. Sebagaimana hasil penelitian menunjukkan perilaku drop out KB paling banyak adalah pada kategori sikap negatif.

Hasil penelitian ini sesuai dengan teori yang menyatakan bahwa “Sikap merupakan reaksi atau respon seseorang yang masih tertutup suatu stimulus atau objek”.Manifestasi sikap itu tidak dapat langsung dilihat, tetapi hanya dapat ditafsirkan terlebih dahulu dari perilaku yang tertutup.Sikap tersebut dipengaruhi faktor internal dan eksternal.

Menurut peneliti sikap Pasangan Usia Subur (PUS) terhadap kejadian Drop Out Alat kontrasepsi suntik merupakan faktor yang menentukan seseorang untuk bersedia menjadi akseptor aktif KB suntik atau malah menjadi drop out . Dalam hubungannya semakin baik respon PUS terhadap kontrasepsi suntik maka semakin positif respon PUS tentang kontrasepsi suntik. Sikap positif tersebut membuat PUS lebih memahami dan menerima serta mau menjadi akseptor kontrasepsi suntik. Sebaliknya semakin rendah respon ibu terhadap kontrasepsi suntik maka semakin berarah negatif respon PUS tentang kontrasepsi suntik.

 

Hubungan Keterjangkauan Pelayanan Kesehatan terhadap Kejadian Drop Out Alat Kontrasepsi Suntik Pada Pasangan USia Subur (PUS)

Hasil uji chi square di peroleh nilai signifikan p value (0.000) < α (0.05) sehingga ada hubungan antara keterjangkauan jarak/tempat pelayanan kontrasepsi dengan kejadian drop out alat kontrasepsi suntik di Wilayah Kerja Puskesmas Sekupang Kota Batam Tahun 2017.


Keterjangkauan         mencapai tempat layanan sangat mendukung seseorang untuk melakukan tindakan. Penelitian yang dilakukan oleh Rahmawati menyatakan bahwa ada hubungan yang bermakna antara kemudahan akses atau keterjangkauan jarak ke tempat layanan pemeriksaan inspeksi visual asam asetat, yang sesuai dengan teori determinan perilaku dari green bahwa jarak, ketersediaan transportasi sebagai faktor pemungkin yang memungkinkan seseorang untuk melaksanakan suatu contohnya KB.

Hasil penelitian ini menunjukkan hasil yang sejalan dengan peneltian yang dilakukan Yuliwati (2012) bahwa ada hubungan yang signifikan antara keterjangkauan jarak dengan drop out alat kontrasepsi dengan nilai P = 0,000. Keterjangkauan mencapai tempat layanan sangat mendukung seseorang untuk mecari pelayanan KB, semakin dekat jarak maka akan semakin mempermudah Ibu untuk ber-KB.

 

KESIMPULAN

Hasil penelitian dan pembahasan yang telah diuraikan sebelumnya mengenai “HUbungan Tingkat Pengetahuan, Sikap dan Keterjangkauan Jarak Pelayanan Kesehatan Terhadap Kejadian Alat Kontrasepsi Suntik Pada Pasangan Usia Subur (PUS) di wilayah kerja Puskesmas Sekupang Tahun 2017”, maka diperoleh kesimpulan Ada hubungan Pengetahuan, Sikap, dan keterjangkauan jarak pelayanan kesehatan terhadap kejadian drop out alat kontrasepsi suntik pada pasangan usia subur (PUS) di wilayah kerja Puskesmas Sekupang Kota Batam Tahun 2017.

 

SARAN

Diharapkan hasil penelitian ini dapat dijadikan acuan dalam mengembangkan ilmu pengetahuan dalam bidang promosi kesehatan khususnya bidang kajian keluarga berencana, khususnya penyebab drop out pada akseptor kontrasepsi suntik dan dapat dijadikan acuan bagi tenaga kesehatan dalam mengembangkan ilmu pengetahuan dalam bidang promosi


 


kesehatan khususnya bidang kajian keluarga berencana.

 

UCAPAN TERIMA KASIH

Terima kasih kepada Ketua STIKes Mitra Bunda yang telah memberikan kesempatan kepada peneliti untuk melakukan penelitian di Wilayah Kerja Puskesmas Sekupang, Terima kasih juga peneliti sampaikan kepada Kepala Puskesmas Sekupang yang telah banayk membantu peneliti dalam menyelesaikan penelitian ini, dan responden yang telah ikut berpartisipasi atau bersedia menjadi responden dalam penelitian ini.

 

DAFTAR PUSTAKA

1.                Siregar A. Kebijakan Program Kependudukan , Keluarga Berencana , dan Pembangunan Keluarga. Bkkbn. 2016;(April):1–75.

2.                BKKBN. Rencana Strategis Badan Kependudukan Dan Keluarga Berencana Nasional. Bkkbn. 2015;1–43.

3.                Pengantar K, Isi D, Tabel D, Gambar dan, Pelaporan S, Eksekutif R, et al. Badan Kependudukan dan Keluarga Berencana Nasional (BKKBN). 2015; Available   from:

https://www.bkkbn.go.id/po- content/uploads/LAKIP_BKKBN_2016. pdf

4.                Rencana Pembangunan Jangka Menengah (RPJM) tahun 2015-2019 BKKBN.pdf

5.                Kementerian Kesehatan RI. Profil Kesehatan RI 2015. Profil Kesehatan Indonesia Tahun 2015. 2016. 125 p.

6.                Kepmenkes. Profil Kesehatan Tahun 2016 Indonesia. 2016.

7.                Dinas Kesehatan Kota Batam. TFR Dan Angka Drop Out Alat Kontrasepsi Kota. Batam; 2016.

8.                Sekupang P. Data Drop Out Alat Kontrasepsi. Batam; 2017.

9.                Kurniawati R, Rokayah Y. Analisis faktor-faktor yang berpengaruh terhadap perilaku drop out KB di Desa Caringin Kabupaten Pandeglang Banten. J Kesehat. 2015;6(1):1–9.

10.            Prasetyo SE. Dengan Kejadian Drop Out Akseptor Kb Abstrak. 2015.


11.            Dyah Permata sari. Analisis Faktor-Faktor Yang Melatarbelakangi Drop Out Pada Akseptor KB Suntik. 2015;

12.            Fajar. Analisis Faktor Yang Berhubungan Dengan Kejadian Drop Out KB Pada Akseptor KB Di Wilayah Kerja Puskesmas Mitra Keluarga Bersemi Lompoe Kota Parepare. 2013;1–11.

13.            Ariska P. Faktor Penyebab Drop Out Peserta KB Di Desa Sidokaton Kecamatan Kudu Kabupaten Jombang. Ilm Kebidnan. 2016;2.

14.            Chairani R, Nurhaeni H, Dkk. Buletin penelitian      sistem  kesehatan.. 2011;14(3):234–40.          Available                         from: https://www.neliti.com/publications/212 76/efektivitas-home-visit-terhadap- perubahan-pengetahuan-sikap-dan- keterampilan-kli

15.            Notoatmodjo. No Title. Cipta R, editor. Jakarta; 2007.

16.            Ea SIB. Hubungan Antara Pengetahuan Dengan Drop Out Penggunaan Alat Kontrasepsi. 2001;399136:399136.

17.            Green TL. Determinan perilaku. 1980;2–5.


Komentar

Posting Komentar